Belajar Tawakal dari Pasien Kanker

Belajar Tawakal dari Pasien Kanker

Kemarin, sejawat saya seorang ahli bedah tumor, mengirim seorang pasien pasca operasi kanker payudara yang berusia hampir 50 tahun untuk dilakukan pemeriksaan ekokardiografi. Pemeriksaan ini diperlukan untuk menilai kelayakan untuk menjalani kemoterapi pasca pengangkatan payudara.

Seperti biasa selama pemeriksaan saya sempatkan berbincang dengan pasien, sering kali diluar masalah medis. Mulailah saya bertanya.
” Ibu sepertinya bukan orang Makassar.”
” Ya, dok saya dari Tulung Agung, Jawa Timur”
” Wah tetangga bu, saya dari kecil hingga SMA tinggal di Kediri”.’
” Oh iya dekat dok”‘
” Ibu mulai kapan terdeteksi kanker payudara ?
” Sekitar 8 bulan yang lalu dok. Awalnya karena ada benjolan seperti bisul tapi agak keras di payudara, dan juga di ketiak. Kirain cuma infeksi biasa..beli antibiotik sendiri. Ehh malah keluar cairan dari puting awalnya seperti cairan susu lalu berubah agak kecoklatan.”
Pasien ini bercerita tanpa ada kesan depresi karena menderita kanker.
“Akhirnya saya berobat ke dr. Ahli bedah tumor dan dari hasil biopsi sudah ada penyebaran ke kelenjar ketiak. Kemudian payudara kiri diangkat total.”
“Baik bu, pemeriksaan sudah selesai, pompa jantungnya bagus, nggak ada masalah dengan kemoterapi. Silakan ganti baju nanti saya jelaskan hasilnya di ruang praktek” Kebetulan pasien terakhir malam itu, sehingga saya punya waktu lebih lama untuk berbincang.
” boleh bapak (suami) dipanggil, bu. Saya mau jelaskan hasil pemeriksaan tadi”
” Oh, dok….suami sudah mendahului saya. Meninggal 2 tahun lalu karena gagal ginjal”
” Maaf, bu….kalau gitu mungkin keluarga yang lain ?”
” Anak saya duduk di ruang tunggu. Tapi nggak usah dok, biar nanti saya yang menyampaikan. Kalau ada kabar buruk, biar saya saja yg dengar”‘ Katanya dengan wajah tenang. Ya Tuhan…baru kali ini ada seorang penderita kanker seperti ini.
” Bu, hasil pemeriksaan pompa jantung baik, tapi nampak ada cairan di selaput pembungkus paru dan jantung.”
“Ya dok, dari foto rontgent dokter bedah tumor juga mencurigai ada penyebaran ke paru” ucapnya dgn nada tenang. Sesaat saya tak bisa bisa berkata apa-apa. Sampai ia melanjutkan perkataannya ” Saya belum sampaikan ke anak saya satu-satunya, nanti menunggu waktu yg tepat”. Ya Tuhan…..tabah sekali ibu ini.
“Ibu kerja dimana ?'”
“Saya jualan nasi kuning dok,”
” Anak masih sekolah ?”
“Alhamdullilah, hampir selesai di Fakultas Tehnik, tinggal ujian skripsi”
” Boleh diajarkan nih bu, bagaimana ibu bisa setabah ini”
” Wah….kenapa harus terlalu dipikirkan ?’ Bukankah kita semua sudah punya suratan hidup masing-masing yang harus kita jalani?”
Ia menghela nafas sejenak.
” Ketika suami meninggal, saya sebenarnya sempat stress tapi kemudian sadar. Kalau saya jatuh sakit siapa yg merawat anak saya? Ketika itu saya berupaya tegar di depan anak. Ketika anak saya bilang, kenapa Tuhan panggil ayah terlalu cepat? Saya bilang, dek bunda juga nggak pernah tanya ke Tuhan kenapa selama ini keluarga kita tak pernah kekurangan biarpun juga tak kaya. Bunda juga nggak nanya kenapa dititipin anak pintar seperti kamu. Juara kelas dari SD, dapet beasiswa sampai kuliah tingkat akhir. Ya nggak?”
Saya tercenung mendengar cerita ibu itu.
” Kalau kita berserah diri, Tuhan tak kan membiarkanmu sengsara”
” Jadi itu pun saya yakini dok, saya tahu umur saya tak panjang lagi. Setiap sholat, bukan kesembuhan yang saya minta kepada Tuhan, saya hanya mohon kalau diperkenankan saya bisa mendampingi anak saya saat wisuda. Mungkin permintaan sederhana ini akan lebih mudah Tuhan kabulkan, dan itu sudah cukup membuat saya sangat bahagia”. Tak ada kalimat yg keluar dari bibir saya, dalam hati saya berujar, ya Tuhan. Ia hanya minta sesederhana itu. Bukankah segala kehidupan seluruh mahluk ini adalah milikMu? Tinggal Engkau bersabda maka terjadilah ! Ibu ini seperti seorang hamba yg takut permintaan pada tuannya terlalu berlebihan.
Mata saya pun berkaca-kaca dan air hangat dari sudut-sudut mata pun tak mampu kutahan lagi. Saya pegang kedua tangan pasien itu dan hanya ini yang bisa saya katakan : ” Terima kasih ibu…..pelajaran spiritual tak ternilai ini sudah ibu hadiahkan pada saya”. Saya bukakan pintu kamar praktek sambil mengucapkan terima kasih sekali lagi, hari ini saya memperoleh pelajaran berharga tentang tawakal, berserah diri pada Tuhan.


Sumber:
https://www.facebook.com/bambang.budiono.5/posts/10205955932313193

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belajar Tawakal dari Pasien Kanker