Mengenang Guru Kehidupan

Mengenang Guru Kehidupan

Mata saya berkaca-kaca setiap kali mengingatnya. Seorang pasien wanita usia akhir 30an yang mengalami kelumpuhan di kedua kakinya karena infeksi sumsum tulang belakang. Berbagai komplikasi dan penyakit lain yang menyertai membuat ia semakin tampak lemah dan menyedihkan.

Tapi tidak dengan semangat dan optimismenya. Saat ia diminta menulis sembarang kalimat di kertas untuk menilai fungsi kognitifnya, perlahan dengan tangannya yang lemah, bergetar ia menulis: SAYA INGIN SEMBUH. Menyisakan kekaguman, iba, sedih dan haru yang berkecamuk di hati saya. Terlebih setelah mengetahui bahwa potensi kesembuhannya tergolong kecil.

Selama di rumah sakit ia hanya ditemani oleh bapaknya yang sudah sepuh. Suaminya pergi entah kemana setelah ia mulai sakit-sakitan, sementara ia juga belum dikarunia anak.

Rasa iba saya kepadanya memuncak saat ia diharuskan menjalani prosedur pungsi lumbal, yaitu pengambilan cairan otak (cerebrospinal fluid) lewat punggung untuk menunjang penentuan diagnosis penyakitnya. Sebuah tindakan medis invasif yang cukup menakutkan bagi kebanyakan pasien.

Awalnya ia menolak karena takut. Namun setelah dibujuk dan dijelaskan mengenai prosedur, resiko dan berbagai pertimbangannya, ditambah semangat dan keinginannya yang kuat untuk sembuh, ia akhirnya mau. Dengan satu syarat. Dan mendengar syarat darinya betul-betul membuat hati saya gerimis. Ia hanya minta semangkok mie ayam.

Ya Allah, mie ayam…
Semewah apa mie ayam baginya sehingga ia mau menukarkannya dengan sebuah perjuangan besar melawan kengerian dan rasa takut.

Hati saya semakin teriris-iris saat kemudian pasien ini harus menjalani prosedur pungsi lumbal ulang untuk penegakan diagnosis. Sambil bergurau saya bertanya kepadanya: kemarin sudah minta mie ayam, sekarang mau minta apa? Bakso mau ya? Dan malu-malu ia mengangguk sambil tersenyum, menyetujui tawaran saya.

Namun sesaat sebelum lumbal pungsi hendak dilakukan, ia bertanya kepada saya: dok, boleh ndak bakso nya diganti sama pepaya? Kata dokter kemarin saya harus banyak makan pepaya biar bisa BAB. Bapak saya ndak punya uang dok buat beli pepaya.

Saya mengangguk perlahan. Kali ini tak lagi gerimis. Banjir sudah hati saya saat mendengar permintaannya. Berkecamuk membadai dengan perasaan yang entah harus saya definisikan seperti apa. Bulir air mata pun tak mampu lagi saya bendung. Menggantung ia di sudut-sudut kelopak mata.
Ya Allah…

Dari kejadian itu pula, saya kemudian mengetahui bahwa keluarga sang pasien memang sangat kekurangan dari sisi ekonomi. Sang bapak yang setia menungguinya itu ternyata memang sudah kehabisan uang. Bahkan untuk makan saja tidak ada. Wajah sang bapak yang tirus disertai Badannya yang kurus dan ringkih dimakan usia, tak terbayangkan betapa berat bebannya. Melihat anaknya sakit berat dan ditinggal suami, beliau harus mengurusi semua keperluan anaknya sendirian. Tak ada anggota keluarga lain yang menemani dan bisa berbagi peran. Keluarga lain tidak bisa menengoknya karena tidak punya ongkos transport ke rumah sakit. Sementara mereka tinggal di luar kota yang cukup jauh dari Jogja.

Belum lagi beliau harus mengurus berkas-berkas BPJS yang luar biasa merepotkan dan membingungkan. Apalagi untuk orang desa yang sepuh seperti beliau. Dan sekarang bekalnya habis. Jangankan untuk membeli pepaya untuk tambahan makan anaknya, untuk mengganjal perut laparnya saja ia tak mampu.
Ya Allah…

Kisah pasien ini begitu membekas di hati saya. Saya juga hanya bisa membantu seadanya, sambil menyemangatinya, membisikkan optimisme walau saya tahu bahwa penyakitnya terus memberat, menasihati agar banyak dzikir dan ibadah, mendekat kepada Allah yang menguasai setiap inchi tubuh kita, menguasai hidup mati, sehat sembuh dan tiap detail jalan hidup kita.

Sampai akhirnya saya harus merelakan pasien tersebut meninggal karena penyakitnya yang semakin parah. Menyisakan kesedihan mendalam bagi sang bapak yang telah renta. Juga bagi saya dan banyak dokter lain yang terlibat merawatnya.

Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari sang pasien. Tentang optimisme, perjuangan, kesabaran, keikhlasan menerima takdir, dan setumpuk hikmah yang lain. Pelajaran yang menampar-nampar saya berulang kali saat mengingatnya kembali. Pelajaran yang membuat saya merasa berhutang banyak kepada sang pasien.
Terima kasih telah menjadi guru terbaik bagi kami, bu…
Terima kasih banyak

Penulis:
Aditya Putra Priyahita

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10207875203990790&set=a.1027258694510.164498.1616580719&type=3

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mengenang Guru Kehidupan