Passion : Sebuah Catatan Dalam Meniti Karir Sebagai Dokter

Passion : Sebuah Catatan Dalam Meniti Karir Sebagai Dokter

Saya punya teman sekamar dulu di Asrama Medika, dia kini dokter anak terkenal di salah satu kota di Sulawesi Tenggara. Pernah dia bercerita, saat sekolah spesialis, terkadang dia tidak pernah melihat matahari, apalagi kalau stase di PICU. Jarang sekali dia beranjak dari sana, setiap pasien harus diobservasi dengan cermat. Makan kadang terlewatkan, ngantuk berusaha ditahan-tahan, bisa tidur adalah sebuah kemewahan, apalagi jika ada pasien kritis, tak jarang dari malam hingga malam datang lagi, dia harus selalu setia berjaga di sana.

Teman saya yang lain, seorang dokter bedah saraf yang pernah bersekolah di Surabaya punya cerita yang mirip. Katanya, di Osaka, tempat dia fellow, operasi kepala paling dua atau tiga dalam sehari. Tapi di Indonesia, tempat dia PPDS, tak bisa seperti itu. Sering dua kali 24 jam dia harus tinggal di kamar operasi dengan seniornya, pasien antri. Walaupun jatah operasinya sudah selesai, seniornya biasa meminta dia membantu untuk operasi selanjutnya. Jangan ditanya capeknya. Katanya istirahat sejam, dua jam, lalu lanjut lagi.

Istri saya saat sekolah Neurologi pun, terkadang pulang dengan wajah murung, menangis. Hari itu hari yang tak bersahabat buatnya. Keadaan pasien berat-berat semuanya, ditambah omelan dari supervisor karena dia tidak tahu saat ditanya, atau melakukan suatu kesalahan.

Orang-orang di atas dan banyak lainnya di luar sana, mungkin tak mengira bahwa jalan atas mimpi mereka bisa begitu berat, kadang jauh dari kata “menyenangkan” dan “menarik”. Tapi apa yang membuat mereka bisa bertahan dan melalui semua itu, “passion”. Menjadi dokter anak, menjadi dokter bedah saraf, menjadi neurologis adalah passion mereka, sesuatu yang penting, seberat apa pun proses yang mereka lalui. Mereka sadar betul bahwa semua itu adalah konsekuensi dari pilihan yang telah diambilnya. Berada di tempat itu tidak hanya cukup punya kecerdasan, tapi juga stamina mental yang kuat. Ini bukan adu sprint, tapi lebih mirip marathon panjang nan melelahkan, butuh kesabaran ekstra.

Supervisor saya di Eijkman pun sebelum saya ke Jepang, pernah bercerita, beliau lulusan Toyama, tetangga Kanazawa namun saat musim dingin saljunya lebih tebal. Dulu, saat sekolah, ketika berjalan melintasi salju tebal katanya kadang dia berpikir, “Apa sih yang saya cari ini, sampai harus berdingin-dingin seperti ini?”. Di Indonesia sebelumnya hidupnya sudah enak dan sekarang berubah 180 derajat. Sering sekali beliau harus berhari-hari menginap di lab, demi mendapatkan sebuah hasil yang bagus. Saya tidak punya penjelasan lain yang membuat beliau bisa begitu spartan dengan risetnya tentang malaria, kecuali bahwa itu telah menjadi passion beliau.

Mengerjakan sesuatu tanpa kita punya passion atasnya, pasti akan membuat sesuatu itu seperti neraka bagi kita. Jika kita sudah terlanjur berada dalam situasi ini pilihannya cuma, tinggalkan atau bertahan dengan mencari apa yang kira-kira kita bisa sukai dan cintai dari hal itu.

Dari beberapa kasus yang saya perhatikan, dimana seorang residen akhirnya meninggalkan pendidikannya, terkadang penyebabnya bukan hal-hal besar, bukan karena mereka bodoh. Tak tahan diomeli. Tak tahan diperintah-perintah, apalagi jika sebelum sekolah, mereka adalah pembesar. Tak tahan begadang. Tak tahan dengan tugas yang seolah tak habis-habis. Tak tahan berada dalam sebuah ruangan seharian misalnya kamar operasi, ruang intensive care. Harusnya sudah bisa ngopi-ngopi, jalan-jalan, santai-santai tapi masih ada pasien, ada operasi berikutnya yang harus dikerjakan.

Saya bisa memaklumi alasan-alasan itu, sangat manusiawi, tapi ada yang absen jika orang begitu mudah dikalahkan oleh hal-hal seperti itu. Mereka tidak punya passion yang cukup kuat atas apa yang telah mereka pilih, atas apa yang mereka kerjakan sekarang. Masak iya mimpi jadi spesialis misalnya dibuang begitu saja hanya karena tidak bisa sedikit berkuat di sana, menikmati setiap proses yang ada dengan segala manis dan getirnya.

Mungkin bukan cuma sekolah seperti di atas ya yang membutuhkan apa yang disebut passion, sekolah apa pun, juga dalam pekerjaan. Kalau saya tidak mencintai apa yang saya kerjakan sekarang, mungkin saya sudah lama akan jadi gila, bertahun-tahun mengulik protozoa usus, mengumpulkan mereka lewat “tai”, entah dari manusia atau hewan, sesuatu yang mungkin sangat menjijikkan dan tak penting bagi banyak orang. Tapi setidaknya sekarang saya sudah bilang “eehhh” (gaya orang jepang saat takjub), ketika melihat mereka akhirnya bisa hidup dalam kultur dan berenang-renang dengan riang di bawah mikroskop, bersiap untuk prosedur yang lain. Hehehe

Akhirnya ini cuma catatan asal saja, semacam refleksi, berbagi cerita, agar orang yang hendak memilih, memulai atau sedang melalui sebuah proses pendidikan apalagi yang panjang waktunya dan keras prosesnya, bisa sejenak mengajak diri mereka ngobrol, “Apakah ini sungguh saya inginkan? Apakah ini sesuatu yang penting, cukup besar, cukup layak dimana hidup, umur, dan materi akan saya habiskan di sana, hal yang kadang membuat keluarga atau berkeluarga jadi prioritas kedua?”. Jika ya, stay strong, dan nikmati saja, setiap perjalanan pasti akan punya akhir bagi mereka yang percaya dan yakin. Lah orang lain bisa melalui itu kok. Jika tidak, leave it, dan jangan sekali-sekali mencoba masuk ke sana.

(Kanazawa, 170318)

– dr. Joko Hendarto, Ph.D


Sumber: https://www.facebook.com/koko.hendarto/posts/10208562961734550

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Passion : Sebuah Catatan Dalam Meniti Karir Sebagai Dokter